CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Rabu, 21 Mei 2008

Komparasi Helm Half Face dan Full Face

Komparasi Helm Half Face dan Full Face

HITUNG BERAT, SIRKULASI dan MASKER

Peran serta helm dalam berkendara memang tidak bisa dipungkiri. Terutama jika menyangkut soal keselamatan pengendara. Itu karena tidak lepas fungsinya melindungi kepala dari benturan.

Namun lantaran beragamnya jenis helm sekarang ini, hal itu turut mengubah kebiasaan pengendara. Maksudnya, pemakaian helm model half face atau full face. Jika sebelumnya sampeyan berkendara pakai helm half face, sekarang full face. Begitu juga sebaliknya.

Nah, kebiasaan yang berubah ini tentu bisa membawa keuntungan atau kerugian bagi pengendara. Kali ini, Em-Plus bakal mengulik tentang dua hal itu.

Komparasi kali ini, bukan berbicara soal safety, utilitas dan sudut pandang. Soal itu kan sudah dibahas di edisi No. 387. Sekarang soal berat, sirkulasi, pemakaian masker hingga pengaruh debu ke wajah.
BOBOT HELM
Ada yang kudu dipertimbangkan sebelum membeli helm. Yaitu, berat helm. Hal ini mempengaruhi kepala dan leher. Beban helm terlalu berat, akibatnya leher jadi cepat pegal.

Jika hal ini dibiarkan terus kala berkendara, bisa menyebabkan fatik alias kelelahan. Terutama dalam kondisi pemakaian helm yang cukup lama. Tentunya, hal ini bakal bikin konsentrasi pengendara jadi terganggu sehingga memicu faktor kecelakaan.

“Berat helm half face idealnya 1 sampai 1,3 kg,” ujar Johanes, Direktur Pemasaran PT Danapersadaraya Motor Industri (DMI). “Sedang untuk helm full face, bobotnya berkisar 1,3-1,7 kg,” tambah pria yang memasarkan helm merek GAG, MAZ, GM dan NHK ini dalam kesempatan wawancara beberapa waktu lalu.

SIRKULASI UDARA
Faktor sirkulasi antara kedua helm sangat terlihat. Tentunya, helm half face memberikan sirkulasi maksimal ketimbang full face. Eit, tapi entar dulu. Itu hanya di bagian wajah. Tidak pada bagian dalam helm!

Nah, sirkulasi penting untuk kesehatan kepala. “Dengan adanya lubang ventilasi penyalur udara, tentu bikin kepala tidak cepat panas,” ujar Joel D. Mastana instruktur Safety Riding.

Menurut pria yang sering kampanye soal safety riding ini, suhu helm dan kepala yang panas juga bisa berpengaruh emosi pengendara. “Secara psikologis emosi meningkat jika dalam kondisi berkendara di siang hari yang terik,” tambahnya.

MASKER
Ini yang menjadi nilai lebih buat helm full face. Soalnya, helm model ini gak perlu masker buat menghalang debu. Berbeda dengan half face, lantaran terbukanya bagian wajah hingga dagu, membuat pengendara keluar duit lebih buat beli masker.

Tentunya, perlindungan dari debu agar tak menempel ke wajah itu perlu. Tapi yang jadi masalah adalah jika masker mengandung karbon akibat asap knalpot dari kendaraan lain. Zat karbon itu bisa masuk ke dalam pori-pori muka.

“Jika sudah seperti itu, lubang pori di wajah akan tertutup dan menimbulkan jerawat,” ujar dr. Linda Julianti, SpKK, dari klinik Erha Clinic, Kemanggisan, Jakarta Barat.

Untuk masker tidak ada batasan jangka waktu penggantian. Tergantung pemakaian pengguna. Maksudnya, jika kondisi masker sudah dirasa tidak layak, maka harus ganti.

KELEMBABAN
Penggunaan helm yang salah juga bisa mengganggu kulit. Baik kulit kepala, maupun kulit muka. Sebabnya helm menutup rapat kepala, sehingga menimbulkan kelembaban di bagian kepala dan sekitarnya.

Kebersihan bagian rambut dan kulit kepala harus selalu diperhatikan. Tujuannya, agar tidak menimbulkan gangguan seperti ketombe. Bahkan jika dibiarkan, bisa timbul bintik-bintik kecil di sekitar bagian yang ditutup helm.

“Itu karena lembabnya kepala akibat keringat yang membasahi rambut dan busa helm,” ujar dr. Linda Julianti lagi. Nah, secara tidak langsung, ini berkaitan dengan sirkulasi udara lo.

PADUAN DUA HELM
Helm model ini, juga banyak tersedia di pasaran. Lantaran model yang serbaguna. Maksudnya, pengendara bisa memiliki dua model dalam satu helm. Yaitu half face dan full face.

Sayangnya, tidak sedikit helm model ini yang memiliki titik berat di bagian depan. Bukan tengah! Tentunya, hal ini juga berpengaruh pada kekuatan leher. Terutama jika berat helm tertumpu di depan.

Parahnya lagi, jika helm itu longgar di kepala! Jika pengendara melakukan pengereman mendadak, sudah tentu bisa menutup mata dan pandangan ke depan. “Ini sangat berpengaruh pada faktor keselamatan,” ujar Joel Mastana.

Sedikit saran, baiknya cari helm yang memiliki busa pas dengan kepala. Selain itu, cari helm yang mempunyai distribusi perpindahan bobot sesuai.

0 komentar: